Jalan Produksi Sawit Kampar Jadi Kunci Ekonomi Nasional, Disbunnak Keswan Tegaskan Dampak Nyata bagi Petani

KAMPAR – Pemerintah Kabupaten Kampar terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat sektor perkebunan melalui pembangunan infrastruktur strategis. Salah satunya adalah program jalan produksi yang dinilai menjadi tulang punggung akses ekonomi masyarakat, khususnya petani sawit.

Kepala Dinas Perkebunan, Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disbunnak Keswan) Kabupaten Kampar, Marahalim, menegaskan bahwa pembangunan jalan produksi bukanlah program instan, melainkan hasil dari proses perencanaan yang matang, terukur, dan berbasis kebutuhan masyarakat.

Menurutnya, program tersebut lahir melalui mekanisme resmi yang berjenjang, mulai dari aspirasi masyarakat di tingkat desa hingga pembahasan dalam forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) di tingkat kecamatan dan kabupaten. Selanjutnya, program ini diselaraskan dengan kebijakan pembangunan daerah serta kemampuan anggaran, hingga akhirnya ditetapkan dalam dokumen resmi seperti RKPD dan DPA yang memiliki dasar hukum melalui Peraturan Daerah.

“Program ini tidak hanya aspiratif, tetapi juga legal, terencana, dan akuntabel. Semua melalui proses yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan,” jelas Marahalim, Kamis (2/4/2026).

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa pembangunan jalan produksi merupakan bagian dari kontribusi nyata Pemerintah Kabupaten Kampar dalam mendukung kebijakan strategis nasional, khususnya di sektor kelapa sawit yang menjadi salah satu komoditas unggulan Indonesia.

Sebagai komoditas prioritas, sawit memiliki peran besar dalam perekonomian nasional, mulai dari penyumbang devisa negara, penguat neraca perdagangan, hingga penggerak ekonomi kerakyatan. Pemerintah pusat pun terus mendorong berbagai program seperti peningkatan produktivitas, Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), hingga penguatan hilirisasi.

Namun demikian, keberhasilan program nasional tersebut sangat bergantung pada kesiapan daerah, terutama dalam menyediakan infrastruktur pendukung yang memadai.

“Jalan produksi menjadi penghubung utama antara kebun masyarakat dengan pabrik. Ini menentukan kelancaran distribusi hasil panen sekaligus menjaga kualitas dan harga jual Tandan Buah Segar (TBS),” tegasnya.

Marahalim merinci, keberadaan jalan produksi memberikan dampak luas bagi masyarakat, di antaranya meningkatkan pendapatan petani karena distribusi yang lebih lancar, menekan biaya logistik, serta meningkatkan efisiensi usaha perkebunan.

Selain itu, pembangunan ini juga mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui berkembangnya sektor transportasi, perdagangan hasil kebun, hingga UMKM di wilayah pedesaan.

Dengan perputaran ekonomi yang semakin meningkat, daya beli masyarakat pun ikut terdongkrak, sehingga memperkuat struktur ekonomi daerah secara keseluruhan.

Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak melihat program pembangunan secara parsial. Menurutnya, penilaian terhadap suatu program harus dilakukan secara menyeluruh dengan mempertimbangkan dampak jangka panjang.

“Jika ada yang menilai program ini tidak bermanfaat, berarti belum melihat gambaran besarnya. Ini bukan sekadar jalan, tetapi akses ekonomi masyarakat dan fondasi pertumbuhan daerah,” ungkapnya.

Di bawah kepemimpinan Bupati Kampar Ahmad Yuzar dan Wakil Bupati Misharti, pembangunan jalan produksi diarahkan tidak hanya sebagai proyek infrastruktur, tetapi sebagai strategi besar dalam meningkatkan daya saing sawit rakyat serta memperkuat kontribusi daerah terhadap ekonomi nasional.

Dengan langkah ini, Pemerintah Kabupaten Kampar optimistis mampu menghadirkan pembangunan yang berdampak langsung bagi masyarakat, sekaligus menjadi bagian penting dalam memperkokoh perekonomian Indonesia dari daerah.*(Osri)