Lipat Kain— Diskusi penyerapan aspirasi bersama kaum perempuan yang digelar anggota DPRD Kabupaten Kampar, Eko Sustrisno, S.Sos, berlangsung dalam suasana santai, penuh tawa, namun tetap bermartabat. Di tengah dialog ringan itu, Eko melontarkan candaan khas yang spontan dan mengundang senyum lebar para peserta.
Dengan gaya bersahaja, Eko berseloroh bahwa dirinya “tidak punya saingan dengan pria lain soal cinta”. Bukan tanpa alasan dalam pertemuan tersebut, ia adalah satu-satunya laki-laki yang duduk di tengah lingkaran para wanita. Candaan itu pun disambut gelak tawa, mencairkan suasana dan menegaskan kedekatan emosional antara wakil rakyat dan konstituennya.
Meski berbalut humor, makna yang disampaikan tetap elegan. Candaan itu bukan tentang romantika semata, melainkan simbol keterbukaan dan rasa aman dalam ruang dialog. Kehadiran satu pria di tengah para perempuan justru menegaskan bahwa suara kaum hawa mendapat ruang utama, didengar tanpa interupsi, dan dihargai sepenuhnya.
Dalam suasana yang cair tersebut, berbagai aspirasi pun mengalir dengan leluasa—mulai dari isu keluarga, peran perempuan dalam ekonomi rumah tangga, hingga harapan akan kebijakan yang lebih berpihak pada kaum ibu. Eko menegaskan bahwa diskusi yang hangat adalah fondasi penting untuk menyerap aspirasi secara utuh.
“Kalau suasana sudah nyaman, aspirasi akan datang dengan jujur. Tugas kami adalah mendengar, mencatat, dan memperjuangkan,” ungkapnya.
Pertemuan itu menjadi potret indah demokrasi yang humanis: candaan yang santun, dialog yang setara, dan komitmen yang nyata. Satu pria di tengah kaum hawa, tanpa saingan—bukan soal cinta, melainkan tentang kepercayaan. Sebab ketika tawa hadir, aspirasi pun menemukan jalannya.(Osri)












