KAMPAR, RIAU – Pelantikan Ardi Mardiansyah, M.Si sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Kampar pada 15 Juni 2026 tidak menghentikan sorotan publik terhadap proses pengisian jabatan strategis di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kampar. Sebaliknya, perhatian masyarakat kini mengarah pada sejumlah posisi penting yang masih menunggu keputusan akhir Bupati Kampar Ahmad Yuzar.
Sebelum dilantik, Ardi Mardiansyah menjadi perbincangan karena informasi yang beredar mengenai hubungan keluarga dengan Bupati Kampar. Kini, setelah kursi Sekda resmi terisi, publik menunggu pembuktian apakah pengisian jabatan strategis berikutnya benar-benar mengacu pada sistem merit atau justru memperkuat persepsi adanya dominasi lingkaran kekuasaan dalam birokrasi daerah.
Sorotan utama tertuju pada posisi Inspektur Daerah yang disebut diikuti Muhammad Irsyad. Jabatan ini dinilai sangat strategis karena menjadi ujung tombak pengawasan internal pemerintah. Karena itu, masyarakat berharap figur yang terpilih benar-benar memiliki independensi, integritas, dan profesionalitas yang tidak diragukan.
Perhatian serupa juga mengarah kepada Al Kautsar yang dikaitkan dengan posisi Asisten Administrasi Umum serta Tengku Said Hidayat yang disebut masuk dalam bursa Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat. Munculnya sejumlah nama yang dikaitkan dengan kedekatan maupun hubungan kekerabatan dengan lingkaran kekuasaan membuat tuntutan transparansi semakin menguat.
Di luar proses seleksi JPT, publik juga masih menyoroti sejumlah pejabat yang telah menduduki posisi strategis, di antaranya Zamhur, M.Pd yang menjabat Kepala Bapenda dan diketahui merupakan adik kandung Bupati Kampar, serta Riadel Fithri, M.Si yang memimpin BKPSDM dan kerap dikaitkan dengan hubungan abang Ardi Mardiansyah Sekda Kampar.
Namun perhatian terbesar saat ini tertuju pada bursa Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kampar. Nama Rita Anggaraini menjadi perbincangan karena disebut masuk dalam kandidat kuat untuk menduduki jabatan tersebut.
Selain faktor pengalaman birokrasi, publik juga menyoroti posisinya sebagai istri H. Eka Demi Yusra, yang dikenal sebagai Ketua Tim Pemenangan Ahmad Yuzar pada Pilkada Kampar dan menjabat sebagai Direktur PDAM Kampar hingga saat ini belum di Lantik di duga cacat administrasi, moral dan etika.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat mengenai objektivitas proses pengisian jabatan strategis di lingkungan pemerintah daerah.
Aktivis Kampar Putra Rahmad Ilahi menilai pengisian jabatan saat ini menjadi ujian besar bagi komitmen Pemerintah Kabupaten Kampar dalam menerapkan sistem merit sebagaimana diamanatkan dalam manajemen ASN.
“Masyarakat tidak mempermasalahkan siapa yang dilantik. Yang dipersoalkan adalah apakah yang dipilih benar-benar yang terbaik atau karena faktor kedekatan. Pemerintah harus mampu menjawab keraguan itu dengan transparansi dan profesionalitas,” ujarnya.
Aktivis Riau Muhammad Irsyad menegaskan, semakin banyak jabatan strategis dikaitkan dengan hubungan keluarga, kedekatan politik, maupun relasi dengan pusat kekuasaan, maka semakin besar pula tantangan pemerintah dalam menjaga kepercayaan publik.
Kini masyarakat menunggu keputusan berikutnya. Setelah kursi Sekda terisi, pengisian sejumlah jabatan strategis lain akan menjadi penentu arah birokrasi Kampar ke depan.
Publik menanti pembuktian, apakah merit system benar-benar menjadi dasar pengangkatan pejabat di Kampar, atau justru persepsi politik kedekatan akan semakin menguat di mata masyarakat.
Tim Redaksi












