Kampar – Menuliskan ini, rasanya seperti sedang menulis surat untuk seorang anak yang sudah beranjak dewasa. Ada rasa haru yang menyelinap, ada bangga yang merekah, namun tak bisa saya pungkiri, ada pula kecemasan-kecemasan lirih selayaknya naluri seorang ibu.
Tujuh puluh enam tahun. Usia yang sangat matang bagi sebuah daerah bernama Kampar.
Di tengah riuh rendah perayaan, izinkan saya sejenak menepi dari podium pidato dan angka-angka statistik. Saya ingin berbicara dari hati ke hati, sebagai seorang perempuan yang mencintai tanah ini tanpa syarat.
Seringkali, definisi maju itu terjebak pada apa yang terlihat oleh mata. Gedung yang menjulang, jalan yang mulus, jembatan yang kokoh. Itu semua penting, benar. Tapi bagi saya, pembangunan fisik hanyalah raga. Lantas, di mana jiwanya?
Bagi saya, jiwa Kampar ada pada senyum tulus ibu-ibu yang menyambut pagi di pasar-pasar. Jiwa Kampar ada pada suara lantang anak-anak kita yang belajar mengaji di surau-surau desa. Jiwa Kampar ada pada ketangguhan para petani dan pelaku UMKM yang tak pernah menyerah pada keadaan.
Itulah mengapa saya selalu percaya bahwa pembangunan harus bermula dari hati.
Sebagai seorang ibu, saya memandang jabatan Wakil Bupati ini bukan sebagai kursi kekuasaan, melainkan sebagai amanah pengasuhan. Ketika saya turun ke lapangan dan melihat masih ada anak yang kekurangan gizi (stunting), hati saya teriris bukan karena grafik kinerja daerah menurun, tapi karena saya membayangkan, “Bagaimana jika itu anak saya?”
Ketika mendengar keluhan tentang ekonomi, saya tidak hanya memikirkan kebijakan fiskal, tapi saya memikirkan dapur-dapur warga yang harus tetap mengepul.
Sentuhan feminin dalam kepemimpinan bukanlah tentang kelemahan. Justru sebaliknya, itu adalah kekuatan untuk melihat detail yang sering terlewatkan oleh mata maskulinitas. Kekuatan untuk mendengar suara yang paling lirih. Kekuatan untuk membasuh luka sosial dengan empati.
Di usia ke-76 ini, surat cinta ini adalah janji saya untuk terus merawat sisi manusia dari pembangunan Kampar.
Saya bermimpi tentang Kampar yang tidak hanya kaya raya, tapi juga kaya rasa. Negeri di mana etika dan adab dijunjung setinggi langit. Negeri Serambi Mekkah yang warganya tidak hanya taat beribadah, tapi juga saleh secara sosial, saling bantu, saling jaga, dan saling peduli.
Kepada kaum perempuan Kampar, para Bundo Kanduong, kalian adalah benteng pertahanan moral negeri ini. Dari tangan dingin kalianlah lahir generasi-generasi Kampar yang akan memimpin masa depan. Mari kita didik anak-anak kita tidak hanya untuk menjadi pintar, tapi untuk menjadi benar.
Dan kepada seluruh masyarakat Kampar, terima kasih telah mengizinkan saya menjadi bagian dari perjalanan panjang ini. Segala kurang adalah milik saya sebagai manusia biasa, dan segala capaian adalah hasil keringat kita bersama.
Selamat ulang tahun, Kampar-ku, Kampar-mu, Kampar kita semua.
Mari kita terus mencintai negeri ini dengan cara terbaik, dengan bekerja keras, dan yang paling penting, dengan hati yang bersih.
Kecil telapak tangan, nyiru kami tadahkan.
Darah daging negeri ini, dengan kasih kami rawat dan besarkan.*(Tim)












