Pasaman Barat — Gelombang kritik terhadap maraknya aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Kabupaten Pasaman Barat kian menguat. Dua aktivis muda, Muhammad Arsyad dan Arifuttajjalli, tampil lantang membongkar kondisi yang mereka sebut sudah masuk tahap darurat lingkungan.
Dalam pernyataan tegasnya, Muhammad Arsyad mengungkap bahwa aktivitas tambang ilegal di sejumlah titik masih berlangsung tanpa penindakan berarti. Ia menilai, kerusakan yang ditimbulkan bukan lagi sekadar ancaman, melainkan sudah nyata dirasakan masyarakat.
“Kerusakan hutan semakin parah, sungai tercemar, bahkan bencana mulai terjadi. Ini bukan isu kecil, ini krisis. Tapi yang jadi pertanyaan publik, mengapa tidak ada langkah tegas dari kepala daerah?” ujar Arsyad dengan nada kritis.
Sorotan tajam juga diarahkan kepada sikap Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat yang dinilai belum menunjukkan respons konkret. Arifuttajjalli secara terbuka mempertanyakan alasan di balik sikap diam tersebut.
“Kami melihat ada kejanggalan. Ketika aktivitas ilegal begitu terang-terangan terjadi, mengapa tidak ada tindakan serius? Publik berhak bertanya, apakah ada kepentingan yang bermain di balik semua ini?” tegas Arif.
Tak hanya itu, keduanya juga menyinggung berkembangnya dugaan di tengah masyarakat terkait kemungkinan keterlibatan pihak-pihak tertentu yang memiliki kedekatan dengan kekuasaan. Mereka menilai isu ini tidak boleh dibiarkan menjadi liar tanpa klarifikasi resmi.
“Transparansi adalah kunci. Bupati harus segera memberikan penjelasan terbuka agar kepercayaan masyarakat tidak semakin runtuh,” lanjut Arsyad.
Aktivitas PETI juga dikaitkan dengan meningkatnya risiko bencana ekologis di wilayah tersebut. Menurut mereka, kerusakan lingkungan akibat tambang ilegal berkontribusi besar terhadap kondisi alam yang kian rentan.
Sebagai langkah lanjutan, Arifuttajjalli menegaskan bahwa pihaknya tidak akan tinggal diam. Mereka siap mendorong keterlibatan pemerintah provinsi hingga aparat penegak hukum jika pemerintah daerah dinilai gagal bertindak.
“Jika tidak ada keberanian dari pemerintah daerah, maka kami akan dorong penanganan ini ke tingkat yang lebih tinggi. Ini soal masa depan Pasaman Barat,” tutupnya.
Keduanya juga mengajak masyarakat untuk tidak apatis dan berani bersuara melawan praktik pertambangan ilegal yang dinilai merusak lingkungan serta mengancam kehidupan generasi mendatang.*(Tim)












