Bangkinang – Menyambut momentum religius 1447 Hijriah, tradisi “Aghiayo Onam” atau ziarah kubur kembali menjadi perhatian masyarakat. Nuansa spiritual yang sarat makna ini digaungkan melalui pesan inspiratif dari Ir. H. Sahidin, yang mengajak umat Islam menjadikan ziarah sebagai refleksi diri sekaligus penguat nilai persaudaraan.
Tradisi ziarah kubur bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan momentum penting untuk mengingat hakikat kehidupan. Dalam pesannya, Sahidin menekankan bahwa “Aghiayo Onam” adalah bentuk penghormatan kepada para leluhur, sekaligus sarana memperkuat keimanan di tengah dinamika kehidupan modern.
“Ziarah kubur mengajarkan kita tentang asal-usul dan tujuan hidup. Ini bukan hanya tradisi, tapi pengingat bahwa kehidupan dunia bersifat sementara,” ujarnya.
Sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dari Partai Amanat Nasional, Sahidin juga menyoroti pentingnya menjaga nilai-nilai budaya lokal yang selaras dengan ajaran agama. Menurutnya, tradisi seperti “Aghiayo Onam” merupakan kekayaan kearifan lokal yang harus dilestarikan oleh generasi muda.
Lebih jauh, ia mengajak masyarakat menjadikan momen ini sebagai ajang mempererat silaturahmi, memperbanyak doa, serta meningkatkan kepedulian sosial antar sesama.
“Momentum ini harus kita manfaatkan untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah dan menumbuhkan rasa empati terhadap sesama,” tambahnya.
Di tengah perkembangan zaman, tradisi ini tetap relevan karena mengandung nilai spiritual, sosial, dan budaya yang mendalam. “Aghiayo Onam” bukan hanya menjadi simbol penghormatan kepada yang telah tiada, tetapi juga menjadi pengikat kuat identitas masyarakat.
Dengan pesan yang sarat makna tersebut, diharapkan masyarakat dapat menjalankan tradisi ini dengan penuh kesadaran dan keikhlasan, sehingga nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya tetap hidup dan menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari. ***












