KUANTAN SINGINGI – Jika di Desa Pantai dan Lubuk Ramo razia PETI gencar digelar, pemandangan sebaliknya justru terjadi di Desa Bukit Pedusunan. Di jantung venue dayung Kebun Nopi, puluhan rakit dompeng meraung bebas tanpa tersentuh hukum.
Ironis. Di lokasi yang seharusnya menjadi kebanggaan olahraga Riau, kini justru menjadi kubangan emas ilegal. Aroma pembiaran begitu menyengat di wilayah hukum Polsek Kuantan Mudik.
Pantauan di lapangan, tidak tanggung-tanggung, belasan rakit PETI beroperasi terang-terangan, siang dan malam. Hukum seolah tak ada harganya di venue kebanggaan itu.
“Ada sekitar 11 unit rakit PETI yang beroperasi persis di sekitar venue dayung Kebun Nopi. Sampai hari ini, belum ada penindakan sama sekali dari polisi. Alasannya klasik, mungkin karena belum ada laporan warga,” ungkap Ikbal, mahasiswa Fakultas Hukum, kepada media ini, Minggu (06/09/2026).
Menurutnya, ini bukan lagi sekadar pelanggaran hukum biasa. Ini adalah kejahatan lingkungan yang korbannya adalah masa depan atlet Riau sendiri.
Setiap hari, limbah pekat dan lumpur dimuntahkan langsung ke Danau Bendungan Kebun Nopi. Air yang dulu jernih kebanggaan atlet, kini berubah menjadi keruh pekat kecoklatan.
“Dampaknya sudah nyata. Air danau sangat keruh sekali. Atlet-atlet dayung kita yang latihan di sana banyak yang mengeluh kulitnya gatal-gatal. Kalau ini terus dibiarkan, ini sama saja kita membunuh kesehatan atlet kita sendiri secara perlahan,” tegasnya.
Ikbal menyebut aktivitas ini sudah masuk kategori kritis. Ini bukan lagi soal mencari sesuap nasi, tapi pembantaian lingkungan secara brutal demi kantong segelintir pemodal.
“Ini titik kritis. Ini bukan pelanggaran lagi, ini pembantaian lingkungan terang-terangan. Yang harus ditangkap itu bukan cuma pekerja di rakit, tapi otaknya. Pemodalnya. Di lapangan, nama Yudi, Sisi, dan Yono disebut-sebut sebagai pemodal besarnya,” ujar Ikbal dengan nada geram.
Fakta di lapangan juga membuktikan, penertiban yang selama ini dilakukan aparat hanya jadi macan kertas. Himbauan Kapolsek soal larangan PETI dianggap angin lalu.
“Buktinya mesin dompeng tetap meraung dari pagi sampai malam. Pemodal tidak takut sama himbauan Kapolsek. Setahu saya, beberapa pekan terakhir Polsek Kuantan Mudik belum pernah sekalipun turun ke TKP venue dayung untuk menindak,” bebernya.
Tanpa penindakan tegas, para pelaku semakin jumawa. Mereka merasa kebal hukum dan bebas mengeruk emas di atas penderitaan atlet dan hancurnya lingkungan.
Sebagai mahasiswa hukum, Ikbal mendesak aparat tidak lagi bermain drama formalitas dan pencitraan belaka.
“Jangan sampai masyarakat menilai polisi turun ke lapangan hanya untuk formalitas, foto-foto, lalu pulang tanpa proses hukum yang jelas. Kami butuh bukti, tangkap pelaku di lapangan sampai pemodal di balik layarnya,” tutupnya.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada pernyataan resmi dari Kapolsek Kuantan Mudik terkait dugaan pembiaran belasan rakit PETI yang mengepung venue dayung Kebun Nopi tersebut.( (Candra)












