LUBUK LARANGAN TANJUNG BELIT KEMBALI DIBUKA: MANCOKAU IKAN JADI MOMENTUM PERERAT SILATURAHMI

TANJUNG BELIT, KAMPAR — Tradisi masyarakat Desa Tanjung Belit kembali menggeliat. Warga akan menggelar Mancokau Ikan Lubuk Larangan di Camping Ground Pulau Tongah, Tanjung Belit, Sabtu, 5 September 2026, mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai.

Kegiatan tersebut bukan sekadar tradisi menangkap ikan. Lubuk Larangan menjadi bagian dari kearifan lokal yang mengajarkan kebersamaan, gotong royong sekaligus kepedulian terhadap kelestarian sungai.

Kepala Desa Tanjung Belit, Efridesmi, menyampaikan bahwa kegiatan Mancokau Ikan merupakan momentum untuk mempererat silaturahmi sekaligus mempertahankan tradisi masyarakat yang telah diwariskan secara turun-temurun.

“Ini bukan hanya tentang menangkap ikan, tetapi tentang kebersamaan. Lubuk Larangan mengajarkan kita untuk menjaga alam, menghargai aturan bersama dan memperkuat silaturahmi antarwarga,” ujar Efridesmi.

Sementara itu, Ketua Panitia Mauludi mengatakan, kegiatan tersebut diharapkan dapat berlangsung meriah namun tetap mengedepankan kebersamaan, ketertiban dan nilai-nilai adat masyarakat.

“Kami mengajak seluruh masyarakat dan sanak keluarga untuk hadir bersama-sama. Mancokau ini adalah momentum untuk berkumpul, bersilaturahmi dan menikmati hasil dari apa yang selama ini kita jaga bersama. Mudah-mudahan kegiatan berjalan lancar, aman dan membawa kebahagiaan bagi seluruh masyarakat,” ungkap Mauludi.

Menurut Mauludi, Lubuk Larangan memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar tempat mencari ikan. Di dalamnya terdapat semangat masyarakat untuk menjaga sungai secara bersama-sama dan menikmati hasilnya pada waktu yang telah disepakati.

Kegiatan yang dipusatkan di kawasan Pulau Tongah itu diperkirakan akan menghadirkan suasana kekeluargaan yang kuat. Masyarakat tidak hanya datang untuk mengikuti Mancokau, tetapi juga menjadikannya sebagai ruang bertemu, bercengkerama dan mempererat hubungan antarwarga.

Mancokau Lubuk Larangan menjadi gambaran sederhana tentang kekuatan sebuah tradisi: alam dijaga bersama, hasil dinikmati bersama, dan kebersamaan terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

BACA JUGA  DINAS PENDIDIKAN, KEPEMUDAAN DAN OLAHRAGA KABUPATEN KAMPAR

Tanjung Belit menjaga sungai, merawat tradisi, memperkuat persaudaraan.

Tim Redaksi